Disleksia Mengantarnya Jadi Pelukis Kreatif

Picture3

Produk artprint mendapatkan kehormatan untuk ikut berpartisipasi dalam pameran tunggal Aqil Prabowo dibawah komunitas Do Art.

berita selengkapnya…………

===========================================================================================

Pelukis Unik

Disleksia Mengantarnya Jadi Pelukis Kreatif

Karina Armandani, CNN Indonesia

Rabu, 22/10/2014 08:06 WIB

Disleksia Mengantarnya Jadi Pelukis Kreatif
Pameran lukisan oleh Aqil Prabowo di Gunung Pancar (CNN Indonesia/Budiono Darsono)

Bogor, CNN Indonesia — Melukis tak melulu harus di kanvas. Memamerkannya pun tak harus di dalam galeri berdinding kaku dengan cat berwarna kelabu. Pameran lukisan bisa dilakukan di manapun. Bahkan di atas gunung.

Aqil Prabowo (10), pelukis muda yang kini bernaung di bawah komunitas Do Art, Minggu (19/10) lalu menggelar pameran tunggal di Hutan Pinus Sentul, Gunung Pancar, Bogor. Untuk mencapai tempat ini saja, orang harus berjalan santai selama dua jam.

Aqil adalah anak yang ceria dengan kecintaan besar akan melukis dan penuh imajinasi. Namun putra pertama Amalia Prabowo ini mengalami kesulitan membaca dan menulis sejak kecil.

Saat berusia delapan tahun, Aqil positif didiagnosa mengalami disleksia, meski perkembangannya tidak berhenti sama sekali.

Aqil mendapatkan berbagai terapi untuk membantunya. Melalui terapi-terapinya Aqil menemukan inspirasi untuk menyampaikan pesan pada kawan-kawannya lewat lukisan.

“Terapi-terapi yang didapatkan Aqil bersifat menyenangkan, dari menggambar pola, jalan kaki, menyiram bunga, dan mencuci sepeda,” kata Amalia menjelaskan.

Terapi-terapi seperti ini membantu tangan dan kaki Aqil berkoordinasi lebih sering. Salah satu terapi yang membuat Aqil terinspirasi untuk berkarya adalah terapi menggambar pola dan berjalan kaki. Melukis juga membuatnya lebih tegar menjalani berbagai terapi yang lama dan melelahkan.

Keseringannya membuat gambar berpola membuat Aqil merasa bosan. Amalia melakukan terapi yang mengharuskannya hiking dan membuatnya sering mengunjungi wisata alam, yang tidak hanya sekadar berjalan di Gunung Pancar tetapi hiking ke Gunung Gede sekali pun.

Dari situ ia mulai menemukan inspirasi untuk mulai mengubah pola gambarnya. Aqil mulai menggambar benda-benda hidup, seperti pohon, jamur, dan bunga yang dibuat menjadi pola pada gambar-gambarnya.

Tidak hanya itu, dengan terapinya ia memiliki empati terhadap lingkungan terutama dengan tambahan pengetahuannya tentang penggundulan hutan dan kerusakan lingkungan.

“Dengan gambar-gambar ini Aqil ingin menyampaikan kepada teman-temannya untuk mencintai hutan dan agar lebih banyak beraktivitas di alam,” ujar Amalia.

Lebih pandai berempati pada alam

 

Berbagai hasil karya lukisan Aqil Prabowo (CNN Indonesia/Budiono Darsono

Ia melihat bahwa ada yang berbeda dari anaknya dibandingkan anak-anak lainnya sejak Aqil memulai terapinya. Amalia merasa Aqil memiliki empati tinggi terhadap berbagai hal, yang juga membuat ibunya lebih peka terhadap berbagai hal.

“Dengan ia sering berjalan-jalan ke hutan, Aqil menjadi lebih berempati ke banyak hal. Ia tidak manja, tidak kekanak-kanakan. Padahal saya tidak merasa mendidik dia seperti itu,” kata Amalia bercerita.

Mengidap disleksia berat yang menjadikannya semi-autis tidak membuat Aqil kesulitan berkomunikasi dengan teman-temannya.

Amalia bercerita dengan terapinya di alam dan menggambar, Aqil semakin percaya diri untuk mengajak teman-temannya ke alam. Bahkan Aqil bisa berkata, “Makanya main ke hutan biar bisa gambar kayak saya.”

Selain itu Aqil juga memiliki daya imajinasi yang sangat tinggi, Amalia mengaku ia sering mengalami kejadian-kejadian unik saat berjalan di alam dengan anaknya.

“Ia pernah tiba-tiba berhenti dan bilang kalau sepatunya ingin berbicara dengan jamur. Lalu pernah juga kita berhenti untuk menunggu bunga mengucapkan salam perpisahan kepada kami,” kata Amalia.

Pameran ini jadi cara Aqil untuk berbagi kegemarannya mengamati alam sebagai sumber inspirasi selama ini kepada teman-teman dan keluarganya.

Alam yang terbuka dan luas dengan cahaya dan sinar matahari dan udara segar adalah suasana yang baru untuk anak seperti Aqil tumbuh dan menghabiskan sebagian besar waktu di ruang kota yang tertutup dan monoton. Pameran ini juga menjadi alternatif untuk wisata akhir pekan berbasis lingkungan.

Kegemaran Aqil ini juga membuat Amalia yang menjadi wanita karier meninggalkan imajinasi-imajinasi kanak-kanaknya jauh di belakang justru bangkit kembali.

“Karena Aqil membuat saya menyelami imajinasi anak-anak, saya justru jadi lebih menghormati banyak hal,” kata Amalia mengungkapkan.

(utw/utw)

 

Iklan

One comment on “Disleksia Mengantarnya Jadi Pelukis Kreatif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s